From a friend's blog.
Penderitaan Istri yang Setia Itu Berujung Kematian…
Begitulah judul berita Kompas 30 April 2006 yang memaksa mataku untuk membaca baris demi baris huruf dibawahnya. Ini kisah tentang seorang guru SD yang meninggal setelah dianiaya suaminya secara terus menerus sejak pernikahan mereka di tahun 1995.Mari kukutip tulisan di koran itu:
"Mereka prihatin atas penderitaannya, tetapi juga menaruh simpati dan kagum pada karakternya yang tegar dan tabah menghadapi penderitaannya, dan setia pada ikatan perkawinan. Sejak dinikahi Johny sekitar tahun 1995, hidup bahagianya hanya sepenggal bulan pertama. Hidup Arta selanjutnya selalu diliputi kekerasan fisik dari suami. Biasanya, Arta dipukul dan disiksa, dimaki,difitnah, dan sering sekali ditelantarkan begitu saja jika jatuh sakit."Dan komentar adik kandung korban," Dia adalah wanita yang setia. Meski beberapa kali kami memberi saran agar bercerai saja dari suaminya, dia tetap bertahan. Padahal dengan gaji sebagai guru, dia bisa menafkahi diri sendiri."
Apakah setia itu? Tidakkah seharusnya setia pada pasangan dan perkawinan itu bersyarat? Minimal, adanya penghormatan terhadap kemanusiaan pasangan. Benarkah sikap bertahan dalam perkawinan semacam itu layak diapresiasi sebagai setia? Atau justru sebenarnya hanyalah kepasrahan (untuk tidak mengatakan kebodohan) sia-sia?
Sebagai orang yang percaya pada adanya pertanggungjawaban setelah umur berakhir, aku bertanya-tanya dalam hati, apakah sikap seperti itu akan dipujiNya kelak? Ataukah Dia justru akan bertanya, "Mengapa tidak kau selamatkan dirimu? Mengapa kau sia-siakan kemampuan dan potensi yang Kuberikan padamu?"
Sebagaimana malaikat mencela kaum muslimin yang tidak mau hijrah dan mati terzalimi di Mekkah, "Bukankah Bumi Allah itu luas?" (Qur'an Surah Annisa 97-99)
Showing posts with label penyakit. Show all posts
Showing posts with label penyakit. Show all posts
Wednesday, June 02, 2010
Setia atau bodoh?
Monday, May 31, 2010
Siapa bilang orang "kecil" gak korupsi?
Kemarin karena ada perlu bawa mobil ortu ke rumah, jadi konvoi sama suami. Karena dompet suami ketinggalan di mobil yang gw kendarai, waktu tiba di gerbang tol gw bayarin sekalian untuk 2 mobil. Gw bilang ke petugas gerbang tol. Dia ngasih selembar receipt / karcis tanda terima pembayaran tol. Gw minta satu lagi, krn gw bayar untuk 2 mobil. Dia bilang nanti aja dia kasih di mobil belakang (yang suami gw kendarai). Jadi maju lah gw, sambil lihat dari kaca spion apakah si petugas tol tsb langsung kasih karcisnya ke suami gw. Ternyata gw lihat dari gesture / isyarat dia ke suami gw dan suaranya masih kedengaran krn gw belum jauh dari loketnya, dia bilang ke suami gw bahwa karcisnya udah dia berikan ke gw, jadi dia "mempersilakan" suami gw untuk maju terus.
HELLOOOO?????
Gw kasih kode ke suami gw bhw dia blm kasih karcisnya. (I was wondering apa suami gw gak pay attention waktu gw melambai-lambaikan selembar karcis tol dan pas masih di loket? Tapi ah well, men are not sensitive in reading non-verbal "codes" or gestures, except detectives maybe :P)
Si petugas gerbang tol mencuri uang yang telah dibayarkan. Karena dengan dia nggak memberikan karcis tol, uang itu kan gak tercatat sebagai pemasukan tol, jadi bisa dia kantongin deh. Cuma gara2 duit dua ribu perak masa' keluarganya harus makan dari uang haram?
Dan itulah contoh nyata korupsi yang dilakukan oleh bukan pejabat tinggi.
Jadi, nggak usah deh ribut2 pejabat korupsi, kalo diri sendiri aja masih nyuri uang perusahaan/negara/rakyat secara jelas2an pula. Atau, jangan2 kita sebagai rakyat biasa, bukan pejabat negara, bukan konglomerat, ribut2 bawel orang2 "di atas" pada korupsi karena kita nggak kebagian giliran korupsi??
HAH-HAHAHAHAHAH
Negriku tercinta, gimana bisa maju... Dari atas sampai paling bawah ke akar2nya sampai generasi muda pun udah belajar menerima korupsi. Dari menerima lama2 melakukan. Itulah kekuatan lingkungan ketemu dengan kelemahan mentalitas.
Bangsaku... :(
HELLOOOO?????
Gw kasih kode ke suami gw bhw dia blm kasih karcisnya. (I was wondering apa suami gw gak pay attention waktu gw melambai-lambaikan selembar karcis tol dan pas masih di loket? Tapi ah well, men are not sensitive in reading non-verbal "codes" or gestures, except detectives maybe :P)
Si petugas gerbang tol mencuri uang yang telah dibayarkan. Karena dengan dia nggak memberikan karcis tol, uang itu kan gak tercatat sebagai pemasukan tol, jadi bisa dia kantongin deh. Cuma gara2 duit dua ribu perak masa' keluarganya harus makan dari uang haram?
Dan itulah contoh nyata korupsi yang dilakukan oleh bukan pejabat tinggi.
Jadi, nggak usah deh ribut2 pejabat korupsi, kalo diri sendiri aja masih nyuri uang perusahaan/negara/rakyat secara jelas2an pula. Atau, jangan2 kita sebagai rakyat biasa, bukan pejabat negara, bukan konglomerat, ribut2 bawel orang2 "di atas" pada korupsi karena kita nggak kebagian giliran korupsi??
HAH-HAHAHAHAHAH
Negriku tercinta, gimana bisa maju... Dari atas sampai paling bawah ke akar2nya sampai generasi muda pun udah belajar menerima korupsi. Dari menerima lama2 melakukan. Itulah kekuatan lingkungan ketemu dengan kelemahan mentalitas.
Bangsaku... :(
Subscribe to:
Posts (Atom)